Jabatan Boleh Camat, Tapi yang Tahu Letak Staples ya Pak OB "Ada satu pegawai yang kalau ditanya apa saja, jawabannya hampir selalu ada. Bahkan kadang lebih cepat daripada mesin pencari. Namanya bukan Google. Namanya Pak OB."

Dilihat : 285 Kali, Updated: Minggu, 19 Juli 2026
Jabatan Boleh Camat, Tapi yang Tahu Letak Staples ya Pak OB

Jabatan Boleh Camat, Tapi yang Tahu Letak Staples ya Pak OB

"Ada satu pegawai yang kalau ditanya apa saja, jawabannya hampir selalu ada.

Bahkan kadang lebih cepat daripada mesin pencari. Namanya bukan Google.

Namanya Pak OB."

Oleh : Jonni Asminingsih, SH

(Kasi Pelayanan Kecamatan Kembaran)

 

"Pak... Staples-nya di Mana?"

 

Mari kita mulai dengan sebuah eksperimen sederhana.

Masuklah ke sebuah kantor pemerintahan. Katakanlah Kecamatan Kembaran.

 

Lalu cobalah bertanya kepada pegawai pertama yang Anda temui.

"Pak, staples cadangannya di mana ya?"

Kemungkinan jawabannya beragam.

"Hmm... coba tanya Bu Kasubag."

"Saya kurang tahu."

"Kayaknya di gudang."

"Sebentar ya, saya cari dulu."

 

Lalu Anda bertanya kepada pegawai kedua.

"Pak, kabel HDMI ada?"

Jawabannya lebih dramatis.

"Duh... terakhir dipakai rapat bulan lalu."

"Coba lihat di lemari."

"Atau jangan-jangan dipinjam desa."

Belum selesai.

Anda lanjut bertanya.

"Pak, sapunya di mana?"

 

Kini semua mulai saling menatap.

Seolah-olah pertanyaan itu setara dengan mencari harta karun peninggalan Majapahit.

Lalu muncullah satu kalimat yang selalu menyelamatkan keadaan.

 

"Tanya Pak OB saja."

Ajaib.

Belum lima menit.

Staples ketemu.

Sapu ketemu.

Kabel LCD muncul.

Kunci aula ditemukan.

Bahkan gelas yang hilang sejak rapat bulan lalu pun bisa ditemukan.

 

Google Itu Hebat. Tapi Google Tidak Tahu Letak Pel Lantai.

Google memang bisa menjawab jutaan pertanyaan.

"Tinggi Gunung Everest?"

"Tahun berapa Indonesia merdeka?"

"Siapa penemu lampu?"

Semua bisa.

 

Tetapi coba ketik begini.

"Di mana kabel proyektor Kecamatan Kembaran?"

Google menyerah.

Namun Pak OB hanya menjawab santai.

"Oh... yang panjang atau yang pendek?"

Beliau bahkan bertanya balik.

Yang membuat kita sadar.

Ternyata kabel LCD saja punya silsilah keluarga.

 

Pertanyaan yang Paling Sering Didengar Pak OB

Percayalah.

Kalau dibuat statistik selama setahun, mungkin inilah daftar pertanyaan yang paling sering beliau dengar.

"Pak, sapunya di mana?"

"Pak, galonnya habis."

"Pak, tisu ruang rapat kosong."

"Pak, kursinya kurang lima."

"Pak, kabel roll masih ada?"

"Pak, LCD nyala tapi layarnya hitam."

"Pak, mic-nya bunyi 'ngiiing'."

"Pak, tamunya sudah datang."

"Pak, dispenser habis."

"Pak..."

Lucunya, hampir tidak pernah terdengar jawaban,

"Saya tidak tahu."

Sebaliknya.

Beliau menjawab dengan tenang.

"Oh, bentar."

Lalu menghilang beberapa menit.

Kemudian kembali sambil membawa barang yang dicari.

Entah dari dimensi mana.

 

GPS Berjalan Bernama Pak OB

Kalau kantor punya Google Maps versi manusia, itulah Pak OB.

Beliau hafal semuanya.

Gudang.

Ruang arsip.

Lemari ATK.

Gudang kursi.

Gudang meja.

Kunci pagar belakang.

Sekring listrik.

Kran air.

Kotak P3K.

Stop kontak cadangan.

Bahkan...

Beliau tahu kursi mana yang kalau diduduki akan berbunyi "kriet..."

Kemampuan seperti ini tidak pernah diajarkan dalam pelatihan manajemen.

Tetapi lahir dari pengalaman.

Dari perhatian.

Dan dari kebiasaan membantu.

 

Jabatan Tidak Selalu Menentukan Pengetahuan

Di kantor, struktur organisasi memang penting.

Ada Camat.

Sekretaris Kecamatan.

Kepala Seksi.

Kasubag.

Staf.

Semua memiliki tugas strategis.

Namun ada satu fakta yang lucu.

Saat rapat hendak dimulai dan LCD tidak menyala...

Semua mata otomatis mencari satu orang.

"Bapak OB mana?"

Saat kunci aula hilang...

"Bapak OB sudah datang?"

Saat listrik tiba-tiba mati sebelah...

"Pak OB tahu MCB-nya di mana?"

Pada saat-saat seperti itulah kita belajar.

Ilmu tidak selalu mengikuti jabatan.

Pengetahuan praktis sering kali lahir dari pengalaman, kepedulian, dan kebiasaan melayani.

 

Pekerjaan yang Tidak Pernah Masuk SKP

Kalau semua pekerjaan Pak OB dimasukkan ke daftar tugas, mungkin panjangnya lebih dari buku telepon.

Menyapu.

Mengepel.

Mengangkat galon.

Menata kursi.

Merapikan aula.

Membersihkan halaman.

Mengantar dokumen.

Menyiapkan ruang rapat.

Membantu tamu.

Memasang layar.

Mengganti lampu.

Memindahkan meja.

Mengantar paket.

Mencari kabel.

Mencari staples.

Mencari gunting.

Mencari kehidupan... eh, bukan.

Lucunya, sebagian besar pekerjaan itu muncul tanpa jadwal.

Dan hampir semuanya dimulai dengan dua kata.

"Pak... tolong."

 

Orang yang Paling Sedikit Duduk

Pernahkah kita memperhatikan?

Ketika pegawai sedang rapat...

Pak OB sedang mondar-mandir.

Ketika pegawai minum kopi...

Pak OB mengangkat galon.

Ketika pegawai selesai acara...

Pak OB membereskan kursi.

Saat semua pulang...

Beliau memastikan kantor kembali rapi.

Keesokan paginya.

Kita datang.

Lantainya bersih.

Halamannya bersih.

Meja sudah tertata.

Seolah semuanya terjadi secara otomatis.

Padahal tidak.

Ada tangan yang bekerja sebelum semua orang datang.

Dan sering kali pulang paling akhir.

 

Mengapa Semua Orang Mengenal Pak OB?

Karena beliau tidak memilih siapa yang akan dibantu.

Hari ini membantu Camat.

Besok membantu staf.

Lusa membantu warga.

Minggu depan membantu petugas kebersihan.

Semua diperlakukan sama.

Barangkali inilah bentuk pelayanan yang paling sederhana.

Tetapi juga yang paling tulus.

 

Pelajaran dari Sebuah Staples

Lucu memang.

Artikel ini dimulai dari sebuah staples.

Tetapi berakhir pada sebuah pelajaran.

Kita sering mengagumi orang karena jabatannya.

Padahal ada orang lain yang diam-diam membuat pekerjaan semua orang menjadi lebih mudah.

Mungkin tidak pernah berdiri di depan podium.

Tidak memimpin rapat.

Tidak menandatangani surat.

Tidak memakai pakaian dinas yang penuh atribut.

Namun kehadirannya membuat pelayanan publik berjalan lebih lancar.

Pak OB mengajarkan bahwa menjadi bermanfaat tidak selalu harus menjadi yang paling tinggi jabatannya.

Menjadi orang yang dapat diandalkan jauh lebih berharga daripada sekadar dikenal karena pangkat.

Maka, lain kali ketika Anda bertanya,

"Pak, sapunya di mana?"

atau,

"Pak, kabel LCD ada?"

atau,

"Pak, dispenser habis."

 

Jangan lupa tambahkan satu kalimat sederhana.

"Terima kasih, Pak."

Karena mungkin, di balik jawaban singkat yang terdengar biasa, ada ketulusan yang setiap hari menjaga agar Kecamatan Kembaran tetap berjalan dengan baik.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti ketika internet mati, sinyal hilang, bahkan mesin pencari tak bisa diakses, masih ada satu "Google" yang tetap siap menjawab dengan senyum.

 

Namanya Sukmana Aji Alias Momon

Pak OB Kecamatan Kembaran.

Terimakasih ya Momon, sehat terus Mon.

 

 

Komentar